• Home
  • Article
  • News
  • Review
  • Tips
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Tekno Dab


Sebenarnya smartphone ini sudah menyita perhatian saya sejak pertama kali smartphone diluncurkan, khususnya untuk yang versi pro. Namun sayang, untuk yang versi pro sendiri harganya belum terjangkau oleh dompet saya. Hingga akhirnya sang adiknya, Zuk Z2 pun diluncurkan. Smartphone dengan processor Snapdragon 820, RAM 4GB, dan ROM 64GB termurah yang saya temui di pasaran. Tapi hal tersebut juga tidak serta merta membuat saya langsung membelinya, saya menunggu dulu hingga harganya bersahabat dengan kantong saya. Dan akhirnya saya mendapatkan harga $189,9 saja atau sekitar 2,5 jutaan untuk menebus smartphone ber-processor Snapdragon 820 ini. Yah meskipun harga yang murah tersebut harus ditebus dengan waktu menunggu yang cukup lama, tapi itu tidak masalah. Apalagi saya hanya mengeluarkan uang $189,9 saja tanpa membayar pajak lagi, mungkin pihak Bea dan Cukainya sedang sibuk di akhir tahun. Langsung saja mari kita ke review dari Zuk Z2 ini.

Pertama kali memegang smartphone ini membuat saya jadi teringat pada dua smartphone yang sebelumnya pernah saya coba, yaitu Oneplus X dan ZTE Blade S7. Hanya saja feels ketika memegang Zuk Z2 ini sedikit lebih nyaman dibandingkan ZTE Blade S7 yang mempunyai sudut tajam di sisi-sisinya, tetapi masih kalah nyaman dibandingkan Oneplus X. Yang sama dari desain ketiganya yaitu balutan kaca yang menutupi bagian depan dan belakangnya. Bahan kaca ini tentu membuatnya tampil menawan namun sedikit licin ketika dipegang. Meskipun rawan terjatuh, jangan khawatir, pihak ZUK mengklaim kaca ZUK Z2 ini sudah memiliki perlindungan Corning Gorilla Glass 4. Gorilla Glass 4-nya seharusnya juga membuatnya aman dari goresan benda-benda yang biasa ada di saku kita seperti kunci atau uang logam. Selain itu ZUK Z2 ini tampil sederhana dengan balutan warna hitam di seluruh bodinya, hanya logo ZUK saja yang sedikit stand out dengan balutan warna silver untuk menunjukkan identitasnya. Dan entah kenapa saya selalu suka dengan garis desain seperti ini, seperti saya menyukai desain Nexus 5X yang juga tampil kalem dengan balutan warna hitamnya.

 

 

 


Tetapi siapa sangka, dibalik kesederhanaannya itu tersembunyi sebuah potensi yang cukup besar. Tidak tanggung-tanggung, meski hanya dibanderol sekitar $185 - $200, Zuk Z2 diotaki oleh processor "flagship" tahun 2016, yaitu Qualcomm Snapdragon 820. Smartphone termurah dengan processor Snapdragon 820 yang saya temui di pasaran dibandingkan dengan smartphone lain dengan spesifikasi yang setara.

Potensi selanjutnya dari Zuk Z2 ini bernama U-Touch. Tombol home pintar yang tersemat di bagian bawah depan smartphone ini yang memiliki berbagai fungsi. Selain berfungsi sebagai fingerprint scanner, tombol home dan back seperti mTouchnya Meizu, tombol tersebut memiliki fungsi yang lain, seperti “slide left or right” untuk berpindah aplikasi yang ada pada histori aplikasi. Selanjutnya ada "press home twice”, “long press home”, dan “long touch home” yang fungsinya dapat dikustomisasi sesuai kehendak kita seperti untuk menampilkan histori aplikasi, mematikan layar, membuka bilah notifikasi, bahkan untuk membuka salah satu aplikasi yang kita inginkan.

 

Selanjutnya masuk ke User Interface, Zuk Z2 ini membawa UI besutan Zuk sendiri bernama ZUI, tidak seperti kakaknya Zuk Z1 yang menggandeng CyanogenMod. ZUI ini menurut saya adalah UI yang simple dan intuitif. Sebagaimana UI-UI smartphone besutan Tiongkok, ZUI tampil tanpa App Drawer. Semua shortcut aplikasi ditampilkan di homescreen. Kemudian ketika kita melakukan swipe ke bawah pada status bar, yang muncul hanyalah bilah notifikasi saja, sedangkan untuk menampilkan toggles quick setting seperti untuk menghidupkan wifi, bluetooth, dll, dilakukan dengan melakukan swipe ke atas dari bawah layar. ZUI juga membawa aplikasi bernama U-Health yang bisa kita akses di bagian paling kiri homescreen. Aplikasi ini dapat menghitung jumlah langkah kita, bahkan bisa untuk menghitung detak jantung kita. Meskipun hasil penghitungannya mungkin tidak seakurat wearable devices seperti smartwatch atau smartband karena untuk menghitung detak jantung hanya menggunakan kamera, bukan sensor sensor detak jantung.

 

Namun, ada satu catatan penting yang perlu diperhatikan bagi pengguna awam yang ingin meminang smartphone ini. Hal tersebut adalah Zuk Z2 datang dengan ROM abal-abal, kecuali jika kita membeli dari website Zuknya langsung. Dan ROM abal-abal ini kabarnya ditungganggi malware yang cukup berbahaya, sehingga setelah menerima Zuk Z2 ini sebaiknya langsung di-flash menggunakan ROM aslinya. Tutorial flashing-nya bisa dilihat di forum zukfans.eu atau klik link ini.

Spesifikasi lain dari smartphone ini adalah ZUK Z2 membawa layar seluas 5 inch dengan resolusi Full HD 1920x1080. Warnanya yang dihasilkan oleh layarnya cenderung natural, tetapi kita bisa mengubahnya di pengaturan jika dirasa tone warna yang dihasilkan tidak sesuai selera. Kemudian Zuk Z2 ini juga mendukung semua jaringan di Indonesia, bahkan terdapat dukungan CDMA. Selain itu, seperti pada Asus Zenfone 3, ketika salah satu Sim Card beroperasi pada jaringan 4G, satu Sim Card lainnya dapat beroperasi pada jaringan 3G, tidak hanya 2G saja. Apa keuntungannya? temen-temen bisa dibaca di blog om Herry SW di Ponselmu.com

Selanjutnya, dengan spesifikasi kelas flagship, yaitu processor Snapdragon 820, GPU Adreno 530, RAM 4GB dan ROM 64GB, performa Zuk Z2 sudah tidak diragukan lagi. Buka tutup aplikasi, berpindah antar aplikasi, multitasking. Semua dilakukan tanpa ada gangguan yang berarti, smooth bianget. Untuk bermain game mulai dari game ringan sampai game berat sekalipun, semuaya dibabat habis.  Hanya saja, setelah digunakan untuk bermain game beberapa menit atau jika ada penggunaan data yang cukup intens, bagian belakang Zuk Z2 ini akan terasa hangat, meskipun masih dalam batas wajar.

 

 

Lanjut ke sensor, sensor yang disematkan ke dalam ZUK Z2 ini bisa dibilang cukup lengkap, hanya minus temperature dan pressure sensor. Untuk sensor sidik jarinya sendiri bisa dibilang lumayan cepat dan akurat. Ohya, sensor sidik jari ZUK Z2 ini always on, jadi tinggal ditowel saja sudah aktif. Tidak perlu menekan tombolnya terlebih dahulu untuk menghidupkan layar seperti kebanyakan smartphone dengan sensor sidik jari di depan.

 

 

Masuk ke sektor baterai, baterai 3500mAh yang dibawanya memiliki daya tahan yang baik. Dengan pemakaian ala saya yang cukup intens membuka media sosial, browsing, dan nonton video di youtube, baterai Zuk Z2 bisa bertahan lebih dari 24 jam dengan screen on time sekitar 4-5 jam. Pengisian baterainya juga tergolong cepat, dari 10% ke 100% hanya membutuhkan waktu kurang lebih 1,5 jam.

 

Terakhir adalah kamera, Zuk Z2 dibekali kamera belakang 13MP. Hasil dari kameranya sudah cukup bagus untuk kondisi pencahayaan yang melimpah. Tapi semuanya berubah ketika cahaya mulai berkurang, di kondisi lowlights kita akan menemukan banyak sekali noise yang muncul di hasil foto. Hal ini mungkin dikarenakan boost ISO yang sepertinya terlalu tinggi untuk mendapatkan hasil gambar yang terang pada kondisi kekurangan cahaya. Ketiadaan mode manual juga membuat satu-satunya cara untuk mengurangi sedikit noise yang muncul adalah dengan mengaktifkan mode HDR. Untuk kamera depannya sudah cukuplah untuk sekedar selfie dan share ke media sosial. Selanjutnya, Zuk mengklaim bahwa kamera ZUK Z2 mampu merekam video slowmotion 920fps, namun sepertinya hal tersebut hanya gimmick saja, karena hasil videonya menurut saya masih jauh dari harapan. Semoga ke depan ada update software dari pihak ZUK untuk memperbaiki performa kamera. Untuk hasil kamera dan video temen-temen bisa melihat video reviewnya yang saya upload di channel youtube saya. 

Berikut ini adalah rangkuman plus dan minus dari ZUK Z2 ini.

Kelebihan :
1. Harga yang paling murah dibandingkan para pesaingnya yang memiliki spesifikasi yang setara.
2. Spesifikasi kelas flagship membuat performa multitasking dan gamingnya sangat mumpuni.
3. Fitur U-Touch yang memiliki fungsi beragam.
4. Sensor fingerprint yang tinggal disentuh saja, tidak perlu menekannya terlebih dahulu.
5. Daya tahan baterai yang cukup baik.
6. Sim kedua bisa menggunakan jaringan 3G meskipun tidak dijadikan sebagai sim utama.

Kelemahan :
1. Datang dengan ROM abal-abal sehingga harus mengerti dan paham tentang flashing.
2. Performa kamera yang biasa saja untuk ukuran spesifikasi flagship, sangat lemah di lowlight dan klaim slowmotion 960fps nya hanya gimmick.
3. Bahan kacanya yang licin dan mudah meninggalkan bekas sidik jari,
4. Body perangkat yang lumayan tebal.
5. Belum tersedia ROM global untuk ZUI.

Kesimpulan :
Dengan hadirnya ROM abal-abal, hal ini membuat Zuk Z2 tidak cocok bagi temen-temen yang ingin membeli smartphone yang tinggal pakai. Kemudian yang kedua, apakah temen-temen sangat mementingkan performa kamera? Jika iya, maka Zuk Z2 sepertinya bukan pilihan yang tepat, karena performa kamera Zuk Z2 biasa saja, bahkan cenderung sangat lemah pada kondisi lowlight. Tapi selain dua faktor tersebut, saya rasa Zuk Z2 sangat layak untuk dimiliki. Apalagi bagi temen-temen yang menginginkan smartphone dengan performa multitasking dan gaming yang sangat mumpuni dengan harga yang murah. Nilai yang diberikan Zuk Z2 menurut saya sudah melebihi dari apa yang kita bayarkan. Kalo kata orang Kulon Progo, worth every penny lah pokoke. Dan saya rasa Zuk Z2 ini masih bisa bertahan hingga 1-2 tahun ke depan seperti smartphone dengan processor Snapdragon 801 yang masih cukup mumpuni sampai saat ini. Tapi ini perasaan saya saja loh ya, bisa saja salah.
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

Nexus device menawarkan sebuah ekosistem serta keterjaminan update software yang langsung di pasok oleh Google. Tetapi semenjak kemunculan Google Pixel, sepertinya brand Nexus sendiri akan mulai diredupkan oleh pendirinya. Meskipun mungkin tidak secara langsung setelah kemunculan Google Pixel, karena memang Google masih memiliki hutang yang harus diselesaikan dengan brand Nexus, setidaknya sampai tahun depan ketika layanan purna jual untuk Nexus device berakhir. Selain itu, apabila sekarang kita membuka laman Google Store, jajaran Nexus device sudah tidak dipajang lagi website tersebut. Lantas, apakah hal tersebut membuat Google Nexus 5X ini tidak layak lagi untuk dimiliki? Kali ini saya akan mencoba membuat ulasan untuk salah satu Nexus device, yaitu Nexus 5X yang dibuat oleh LG.

Unboxing
Untuk proses buka kotak dan impresi pertama saya mengenai Nexus 5X ini sudah saya abadikan dalam sebuah video yang saya unggah di channel youtube saya. Silakan mampir ke channel saya bagi yang ingin melihat proses buka kotaknya.


Dus dari Nexus 5X ini cukup unik menurut saya. Dusnya berwarna putih dan pada bagian depan terdapat logo X serta tulisan Nexus 5X. Isi dusnya sendiri cukup lengkap, ada device Nexus 5X, panduan singkat berbentuk card yang unik, kartu garansi, sim card ejector, kepala charger dengan output 5V 3A dan kabel data. Yang menjadi catatan buat saya adalah kepala charger dan kabel data yang disertakan ke dalam paket penjualannya, karena kepala chargernya memiliki port USB Type-C dan kabel datanya pun juga USB Type-C ke USB Type-C. Hal ini tentunya akan sedikit merepotkan untuk mencari penggantinya ketika kepala charger atau kabel datanya mengalami kerusakan. Dan untuk bisa menghubungkannya ke PC atau Notebook, kita memerlukan kabel tambahan yang bertipe USB Type-A ke USB Type-C yang harus dibeli secara terpisah. Ohya, unit yang saya dapat ini adalah versi Amerika Serikat dengan kode LGH790 yang hanya support LTE di Indonesia di frekuensi 1800MHz saja.

Dus Nexus 5X
Isi Kotak
Tipe Nexus 5X
Bodi Nexus 5X
Kepala Charger dan Kabel Data
Langsung ke ulasan dari Nexus 5X ini. Pertama, kita ngomongin desainnya. Nexus 5X ini dibalut dengan bahan full plastik atau polycarbonat dengan finishing doff, mulai dari frame sampe bagian belakangnya. Meskipun berbahan plastik, tetapi bodi Nexus 5x ini cukup solid. Bobotnya cukup ringan dan finishing doffnya membuatnya nyaman di genggaman tangan dan tidak meninggalkan sidik jari ketika digunakan. Meskipun saya menyukai desain dari Nexus 5X ini, tapi ada beberapa aspek yang kurang saya sukai yaitu, peletakan tombol power di atas tombol volume yang membuat aksesnya agak susah, modul kameranya yang kayak bisul mau pecah dan bahan doffnya yang mudah sekali meninggalkan bekas goresan yang tidak bisa hilang. Letak speaker yang ada di bagian depan membuatnya terlihat seolah-olah memiliki dua speaker stereo, yaitu di bagian atas dan bawah layar. Tapi sayangnya lubang di atas layar murni hanya earpiece, sedangkan speakernya hanya yang berada dibagian bawah layar. Overall untuk sisi desain dari Nexus 5X ini saya bisa bilang cukup bagus, nyaman untuk digunakan tapi tak ada kesan mewah. Tapi entah kenapa, saya sepertinya jatuh cinta dengan desain dari Nexus 5X ini pada saat pertama kali saya melihatnya.

Bagian Belakang
Samping Kanan - Tombol Power dan Volume Rocker
Bagian Bawah - Port USB Type-C, Microfon, dan Jack Audio
Bagian Kiri - Slot Simcard - Atas Kosong
Letak Speaker
Layarnya sendiri memiliki dimensi 5,2 inch bertipe IPS dengan resolusi Full HD 1080p. Reproduksi warna yang dihasilkan bisa dikatakan cukup baik. Warna yang ditampilkan cenderung natural. Selain itu layar dari Nexus 5X ini sudah dilindungi oleh teknologi Corning Gorilla Glass 3 yang membuatnya aman dari goresan benda-benda tajam dan Oleophobic Coating yang membuat layarnya sangat mudah (licin) untuk dioperasikan.

Selanjutnya masuk ke bagian software, ketika pertama kali Nexus 5X ini saya terima, versi Androidnya saat itu masih versi 6.0 atau Android Marshmallow. Namun tak selang beberapa lama akhirnya muncul notifikasi update ke Android Nougat 7.0 dan tak lama kemudian Google merilis Android versi 7.1 Developer yang membawa beberapa fitur dari Google Pixel ke Nexus Device. Beberapa fitur yang dibawa diantaranya adalah app shortcut yang memiliki fungsi layaknya 3D touch pada device Apple, tab support di menu pengaturan yang berfungsi untuk chatting dengan Customer Service Google apabila temen-temen berdomisili di Amerika, dan yang pasti, akhirnya opsi yang sudah direquest cukup lama oleh para pengguna dimunculkan, yaitu opsi Restart yang memang sebelumnya tidak pernah ada di device Nexus. Selain itu ada beberapa perubahan kecil untuk meningkatkan kenyamanan user experience. Lengkapnya bisa cek di artikel saya sebelumnya.

Semua devices Nexus pasti membawa tampilan Vanilla UI atau Stock Android yang minimalis, ringan dan pastinya bebas bloatware. Kecuali kalo teman-temen menganggap aplikasi-aplikasi Google itu adalah bloatware. UI yang ringan itu dipadukan dengan hardware yang tidak bisa dibilang ketinggalan jaman untuk HP keluaran tahun 2015. Ada processor Hexacore Qualcomm Snapdragon 808, GPU Adreno 418 dan RAM 2 GB membuat performa device ini sangat lancar. Hampir tidak ada lag yang saya temukan ketika saya memakai device ini. Baik itu navigasi antar menu, buka tutup aplikasi, berpindah-pindah aplikasi, scroll web page di browser, dan lain-lain semuanya berjalan lancar tanpa hambatan. Tapi dengan RAM 2GB, tak bisa dipungkiri kalo Nexus 5X ini sudah mulai agak keteteran untuk urusan multitasking. Performa gamingnya bisa dibilang baik, mulai dari game ringan sampe game berat bisa dijalankan dengan baik, meskipun untuk game dengan grafis tinggi beberapa kali terasa ada frame drop.

  

Sebagai HP kekinian, tak lupa Google menyematkan pemindai sidik jari, konektor USB type C dan sensor-sensor yang lengkap sebagai jaminan masa depan. Fingerprintnya sendiri lumayan cepat, meskipun bukan yang tercepat. Keakuratannya juga sangat baik dan sudah mendukung pemindaian 360 derajat. Untuk urusan multimedia, saya rasa Nexus 5X ini memiliki kualitas yang biasa-biasa saja. Speaker Nexus 5X berada di bawah layar pada bagian depan, hanya saja belum stereo. Seandainya sudah stereo di atas dan di bawah layar pasti akan lebih baik lagi. Keluaran suaranya menurut saya bagus, kencang tapi tidak cempreng dan pecah saat posisi volume maksimal. Jack audio 3,5mm nya berada di bagian bawah. Tapi saya menemukan sedikit keanehan di jack audio ini, ketika saya colokan earphone Xiaomi Mi Piston 2, earphone tersebut tidak dikenali oleh devices ini. Mungkin tidak kompatibel saya juga kurang mengerti.

Beralih ke penyimpanan, Nexus 5X memberikan dua pilihan penyimpanan, yaitu 16GB dan 32GB dan tidak disertakan slot micro sd. Sehingga saran saya lebih baik ambil yang versi 32GB kalua memang ada dana lebih. Dan satu lagi, Nexus 5X hanya mendukung satu SIM saja. Jadi bagi temen-temen yang butuh dual sim ato membutuhkan tambahan penyimpanan, Nexus 5X ini mungkin bukan merupakan pilihan yang tepat.

Semua spesifikasi di atas ditopang oleh baterai sebesar 2700mAh. Daya tahan baterainya saya rasa biasa saja, tidak bagus namun juga tidak buruk. Nexus 5X bisa bertahan seharian selama 14-16 jam dengan pemakaian ala saya, yaitu intensif social media, browsing, dan sesekali nonton video di youtube. Screen on time yang saya dapatkan biasanya sekitar 4 sampaai 4 setengah jam jika pemakaiannya cukup intens. Tapi LG membekali Nexus 5X ini dengan dengan dukungan fast charging, sehingga membuat waktu pengisian baterainya tergolong sangat cepat, dari di bawah 5% sampe full hanya membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam kurang menggunakan charger bawaannya yang memiliki output voltase 5V dan 3 Ampere.

 

Informasi Hardware dan Sensor :
   
 


Masuk ke bagian kamera, Nexus 5X dipersenjatai kamera belakang beresolusi 12,3MP dan 5MP untuk kamera depan. Fokusnya sendiri menurut saya lumayan cepat berkat hadirnya teknologi Laser Auto Focus. Kamera Nexus 5X ini juga mendukung pengambilan gambar dengan format RAW untuk keleluasaan dalam melakukan pengeditan foto, tapi untuk mengaktifkan fitur ini harus menggunakan aplikasi pihak ketiga. Selain itu, kamera belakangnya juga mendukung Elektronik Image Stabilizer untuk memberikan hasil perekaman video yang lebih baik, tapi sayangnya fitur ini tidak secara default aktif dan membutuhkan akses root untuk mengaktifkannya. Bagi saya yang gak terlalu ahli di bidang foto memfoto ini, menurut saya hasil foto yang dihasilkan dari kamera Nexus 5X ini sudah bagus, meskipun untuk kondisi lowlight menurut saya noisenya lumayan banyak, namun hal ini dapat sedikit diatasi dengan mengaktifkan mode HDR. Hasil kamera dari Nexus 5X ini dapat dilihat di link berikut.

Kesimpulan
Kesimpulan untuk HP ini, performa yang baik dengan tampilan stock android serta jaminan OS terbaru dari Google, setidaknya sampai Oktober 2017. Setelah itu apakah akan ada update OS lagi? Hal tersebut sangat tergantung dari kebijakan Google, kita lihat saja nanti. Tapi sekalipun jika Google nantinya tidak memberikan upgrade versi Android lagi untuk Nexus device setelah 2017, banyak developer-developer yang mensupport sebagian besar Nexus Device ini, seperti Cyanogen, ParanoidAndroid, dan masih banyak lagi. Jadi, menurut saya meskipun Google Pixel sudah muncul, Nexus 5X ini masih sangat layak untuk dimiliki. Namun, bagi temen-temen yang menginginkan smartphone yang memiliki dukungan dual sim dan penyimpanan tambahan, sepertinya Nexus 5X ini bukan pilihan yang tepat.

Dan akhirnya saya menjadikan Nexus 5X ini sebagai daily driver saya. Saya sudah menggunakan device ini selama hampir 3 bulan dan saya sangat puas menggunakannya. Selama pemakaian, saya juga belum menemukan hal yang sangat menganggu. Posisi OS terakhir saat ini pada device Nexus 5X ini adalah Android Nougat 7.1.1.

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

Setelah Google mengumumkan Android Nougat beberapa bulan lalu. Akhirnya mulai hari ini, pihak CyanogenMod merilis Custom ROM buatannya yang berbasis Android Nougat 7.1, yaitu CyanogenMod 14 (CM 14.1 Nightly Builds). Tapi yang jelas ini merupakan build awal yang tentunya masih perlu pengembangan yang lebih lanjut. Seperti yang dikatakan di website CyanogenMod sendiri bahwa beberapa fitur (seperti fitur tema) mungkin masih belum tersedia. Jadi harap bersabar karena masih dalam proses development.

Untuk build awal ini baru beberapa device saja yang bakal menerima update CM 14 ini, diantaranya adalah sebagai berikut:
- Angler (Nexus 6P)
- Bullhead (Nexus 5X)
- Cancro (Xiaomi Mi3w/Mi4)
- D855 (LG G3)
- Falcon/peregrine/thea/titan (Moto G variants)
- H811/h815 (LG G4)
- Klte/kltedv/kltespr/klteusc/kltevzw (Samsung Galaxy S5)
- Oneplus3 (OnePlus 3)
- Z00L/Z00T (Zenphone 2)

Apakah device temen-temen ada dalam list di atas? Jika ada, mungkin temen-temen bisa ikut membantu perkembangan dari CM 14 ini dengan melaporkan bug-bug yang mungkin ada di build awal ini. Tapi seperti yang dikatakan di website CyanogenMod juga bahwa jangan melaporkan bug seperti fitur yang hilang atau belum ada, karena memang masih dalam proses.

"Bug reports are OK, but please don’t file bugs for missing features since this is all a work in progress. Now is a great time to get involved with the project too- CM is returning to it’s community-driven roots and there are endless ways to help out. - Steve Kondik"

Jadi, apakah temen-temen akan melakukan upgrade ke CyanogenMod 14 (bagi yang devicenya sudah di support)? 

source : cyanogenmod blog
image source : here
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

Pada 4 November 2016 kemarin tak lama setelah merilis Xiaomi Mi Note 2 dan Mi Mix, Xiaomi kembali merilis smartphone besutannya. Kali ini Xiaomi merilis lini samrtphone penerus dari Xiaomi Redmi 3, yaitu Redmi 4. Sebagaimana kita ketahui, jajaran Xiaomi Redmi selalu menyasar pelanggan kelas menengah ke bawah dengan harga yang sangat terjangkau. Meski demikian jajaran Redmi 4 ini tetap mendapatkan sentuhan desain yang cantik dan terlihat mewah. Redmi 4 juga hadir membawa sistem operasi Adroid Marshmallow 6.0 yang dibalut dengan MIUI 8 di bentang layar 5 inch.

Tidak tanggung-tanggung, Xiaomi langsung merilis tiga varian Redmi 4 sekaligus, yaitu Redmi 4A, Redmi 4 Standard Edition, dan Redmi 4 High Edition. Lantas apa saja perbedaan dari ketiganya? Temen-temen bisa lihat di tabel berikut yang sudah saya rangkum dari website mi.com.
Dari tabel tersebut dapat kita lihat bahwa Redmi 4A merupakan varian terendah dari jajaran Redmi 4. Perbedaan utama dari jajaran Redmi 4 lainnya adalah penggunaan CPU Quadcore Snapdragon 425, kapasitas baterai 3120mAh, dan absennya sensor pemindai sidik jari. Tapi wajar saja, karena hanya dengan 499 Yuan atau sekitar 900ribu rupiah, temen-temen bisa mendapatkan Redmi 4A. Sepertinya ini pertama kalinya Xiaomi membuat smartphone dengan harga di bawah satu juta rupiah.

Redmi 4A (source from here)
Redmi 4 (source from here)
Di tingkatan selanjutnya ada Redmi 4 Standard Edition yang sepertinya memiliki spesifikasi yang hampir sama dengan pendahulunya, yaitu Redmi 3S. Hadir dengan CPU Octacore Snapdragon 430, RAM 2GB dan ROM 32GB. Sektor baterai dan resolusi layarnya pun sama yaitu 4100mAh dan resolusi HD atau 720p. Redmi 4 Standard Edition ini dibaderol dengan harga 699 Yuan atau sekitar 1,3 juta rupiah.

Di tingkat teratas ada Redmi 4 High Edition yang mendapatkan pembaruan yang cukup signifikan dari pendahulunya. Sebut saja CPU Octacore Snapdragon 625, RAM 3GB dan ROM 32GB. CPU berarsitektur 14nm yang diklaim hemat daya ini dipadukan dengan baterai 4100mAh, kebayang gak iritnya gimana? Zenfone 3 yang baterainya hanya 2650mAh saja sudah termasuk irit lho menggunakan processor ini. Tak ketinggalan resolusi layar juga mendapatkan peningkatan ke Full HD atau 1080p. Tapi bukan jajaran Redmi namanya kalau tidak dibanderol dengan harga yang murah, Redmi 4 High Edition ini bisa didapatkan dengan mahar 899 Yuan atau sekitar 1,7 rupiah saja.

source from here
Tetapi, pertanyaan besarnya adalah, kapankah device tersebut akan masuk secara resmi ke Indonesia? Sepertinya hanya Xiaomi dan Tuhan yang tahu. Tapi sepertinya Xiaomi sudah menyiapkan sedikit kejutan untuk fans nya di Indonesia. Hal ini bisa dilihat di webpage sertifikasi postel, terlihat Xiaomi sedang mempersiapkan Xiaomi Redmi 3S yang dirakit di Indonesia. Apakah Xiaomi akan mulai serius dengan pasar Indonesia? Kita tunggu saja. 

Share
Tweet
Pin
Share
3 comments

Bagi temen-temen yang mempunyai device Google Nexus 6P, Nexus 5X, dan Pixel C serta mengikuti program Android Beta, temen-temen berkesempatan untuk menjajal Android Nougat versi 7.1 Developers Preview 1 (DP1) yang baru saja dirilis oleh Google belum lama ini. Temen-temen bisa langsung download melalui System Update di device masing-masing atau bisa install melalui factory image di link berikut. Bagi yang belum mendaftar program Android Beta, bisa mendaftar di link berikut dan mendaftarkan perangkat temen-temen. Terus, apa aja sih yang baru di Android 7.1 DP1 ini? Secara umum, Android 7.1 DP1 ini membawa fitur-fitur di Google Pixel ke Nexus Device, meskipun tidak/belum semuanya karena mungkin Google menginginkan fitur tersebut secara eksklusif ada di Google Pixel. Beberapa yang masih absen diantaranya Pixel Launcher, Pixel Camera, Night Light dan Google Assistant. Tapi beberapa fitur tersebut dapat diakali apabila device kita sudah punya akses root. Oke, langsung saja kita bahas fitur-fitur baru di Android 7.1 DP1  ini. Kebetulan saat ini saya memegang device Nexus 5X dan sudah saya update ke Android 7.1 DP1.

App Shortcut
Fitur yang menurut saya paling menonjol adalah App Shortcut ini. Fitur ini hampir mirip dengan 3D Touchnya Iphone, bedanya fitur ini tidak membutuhkan hardware khusus. Kita hanya tinggal melakukan long-press pada ikon aplikasi dan shortcut pun akan muncul. Tapi untuk saat ini baru beberapa aplikasi bawaan Google saja yang mendapatkan fitur ini. Untuk aplikasi yang lain semoga saja segera menyusul. Ohya, fitur ini bekerja dengan lancar baik itu di appdrawer maupun di homescreen. Dan menariknya lagi, shortcut-shortcut tersebut dapat kita letakkan di homescreen untuk akses yang lebih cepat lagi.

  

Moves
Seperti Google Pixel, pada Setting terdapat sebuah menu baru, yaitu Moves. Di sini ada tiga fitur yang disematkan oleh Google. Ada Jump to Camera untuk memberikan akses yang lebih cepat ke aplikasi kamera dengan menekan dua kali tombol power. Kemudian ada Flip Camera yang memudahkan dalam mengganti mode kamera belakang dan kamera depan hanya dengan menggoyangkan device 2 kali di aplikasi Google Camera. Yang ketiga ada Lift to Check Phone yang memberikan kemudahan dalam melihat notifikasi yaitu dengan hanya mengangkat device di saat layar mati. Tapi fitur terakhir ini sebenarnya pada versi sebelumnya sudah ada, hanya saja di update terbaru ini dipindah ke menu Moves. Tapi sayang, gesture di fingerprint untuk swipe panel notifikasi seperti di Google Pixel tidak dibawa ke versi ini.

 

Opsi Restart di Power Menu
WOW, akhirnya setelah bertahun-tahun, Google pun menyematkan opsi Restart pada device keluaran mereka. Saya sendiri sebenarnya kurang begitu tahu alasan Google tidak menyematkan opsi ini di Power Menu sebelumnya, tapi setelah sekian lama Google pun akhirnya menyematkannya. Terima kasih Google.


GIF Search pada Keyboard
Seperti pada aplikasi GBoard yang ada di iOS, Google Keyboard kini bisa digunakan untuk mencari gambar GIF langsung pada aplikasi keyboard. Caranya cukup simpel, tinggal tap saja tombol emoji pada keyboard dan tap "GIF" yang ada di sebelah kanan spasi. Akan tetapi untuk saat ini baru pada aplikasi Messenger fitur ini dapat digunakan, karena untuk dapat menggunakannya pihak developer aplikasi harus memberi tahu keyboard bahwa aplikasinya mensupport masukkan GIF (tentunya dengan bahasa pemrograman ya). Jadi ditunggu saja update dari beberapa aplikasi pihak ketiga.


Beberapa perubahan minor yang memberikan kemudahaan akses, diantaranya:
Panel notifikasi ketika kita swipe pertama kali kini menempatkan 6 Quick Settings Toggles dari yang sebelumnya hanya 5+1 panah. Selain itu icon Setting yang dulunya muncul setelah swipe kedua panel notifikasi, kini ada pada swipe pertama notifikasi.


 

Kiri : Android 7.0 (source) - Kanan : Android 7.1

Tampilan System Update kini lebih lengkap, yaitu menyajikan Android Version dan tanggal Security Patch yang terinstal. Juga, tombol untuk cek update kini dihilangkan.

 

Kiri : Android 7.0 (source) - Kanan : Android 7.1

Posisi Navigation Bar tetap dan tidak berpindah-pindah. Agak susah sih ini untuk menjelaskannya, hehe. Sebelumnya, ketika kita melakukan rotasi landscape searah jarum jam maka Navigation Bar akan berpindah posisi ke arah yang berlawanan. Sekarang posisi Navigation Bar akan selalu tetap dan tidak lagi berpindah-pindah.


Pada Settings kini ada menu Support. Tapi support di sini menurut saya lebih ke Panduan Pengguna atau menu Help kalo di Windows, jadi tidak sama seperti Google Pixel yang bisa Chat dengan Customer Service 7x24 Jam.

Menu Support
Mungkin baru itu fitur-fitur baru yang dibawa oleh update Developer Preview Andorid 7.1 yang bisa saya temukan. Mungkin ada temen-temen yang menemukan fitur-fitur yang lain bisa menambahkan. Fitur-fitur tersebut mungkin belum sempurna untuk saat ini dan pasti akan selalu dikembangkan oleh Google. Dan mungkin beberapa fitur tersebut sudah bisa kita nikmati sebelumnya kalau kita menginstall Custom ROM. Tapi bagi sebagian orang yang menggunakan ketiga device di atas dan tidak ingin repot-repot "mengoprek", fitur-fitur tersebut akan memberikan angin segar bagi penggunanya.
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Gadget Enthusiast yang selalu senang mencoba hal-hal baru yang berbau teknologi dan selalu ingin sharing pengalaman mencoba hal-hal baru tersebut, namun ada sedikit kendala yang menghambatnya, yaitu MALAS :D

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Popular Posts

  • Pengalaman Membeli HP dari Luar Negeri (Aliexpress) – Part 2 (Update 2019)
  • Pengalaman Membeli HP dari Luar Negeri (Aliexpress) – Part 1
  • [Review] Meizu M3S : Kolaborasi Yang Pas

Categories

  • Article (1)
  • News (2)
  • Review (6)
  • Tips (7)

Blog Archive

  • April 2019 (1)
  • March 2019 (3)
  • February 2017 (1)
  • December 2016 (1)
  • November 2016 (2)
  • October 2016 (1)
  • August 2016 (8)

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates | Used by TeknoDAB